Ironi di Negeri Mayoritas Muslim; Natal Dibesar-besarkan, Idul Fitri Dikerdilkan

By on December 26, 2014

Sungguh malang dan mengenaskan nasib umat Islam di negara yang mayoritas mutlak rakyatnya beragama Islam ini. Betapa tidak, setiap rezim berganti rezim sejak zaman Sukarno hingga Jokowi sekarang ini, nasib umat Islam tidak bisa berubah dimana mereka bagaikan buih ditengah-tengah ombak lautan atau roti yan dikerubuti semut-semut ganas.

Betapa tidak, para ulama yang konsisten dengan penegakan syariat Islam sama menjadi penghuni juruji penjara yang dingin dan pengab, para pemudanya yang ikut latihan militer padahal untuk persiapan membela saudaranya umat Islam Palestina dari penindasan tentara Zionis Israel justru difitnah sebagai teroris dan diuber-uber seperti penjahat atau residivis, sementara ribuan pemuda Kristen Katolik yang tergabung dalam Laskar Kristus dibebaskan seluas-luasnya untuk mengadakan latihan militer di sekitar Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.

Selain itu umat Islam juga dilarang untuk menegakkan hukum qishosh meski dilingkungan pesantren sekalipun, sementara orang Hindu bebas menegakkan hukum adat di Bali.

Umat Islam atau ormas Islam dihalang-halangi untuk memiliki televisi dengan jangkauan siaran secara nasional dengan dalih sudah kehabisan channelnya, sementara pemilik televisi swasta dari golongan Sepilis (Tv One, Metro Tv, Trans Tv, Trans 7), Kristen (MNC Tv, Global Tv, RCTI, ANTv, Indosiar) , Katolik (Kompas Tv), Hindu (Bali Tv) dan Budha (DAAI Tv) sudah lama memiliki televisi nasional, sehingga mereka dengan bebasnya melakukan intervensi sampai kedalam rumah tangga umat Islam.

Namun yang menyedihkan lagi adalah, dalam merayakan hari-hari besar Islam seperti Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha serta hari-hari dimana umat Islam juga memperingatinya seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, awal Muharram dan Nuzulul Qur’an, setiap rezim di Indonesia berusaha mengkerdilkannya agar kelihatan tidak semarak syiar Islamnya, terutama selama 10 tahun pemerintahan rezim SBY-JK dan SBY-Boediono.

Namun sebaliknya, peringatan hari-hari keagamaan Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan Konghuchu justru dibesar-besarkannya, sehingga seolah-olah umat Islam Indonesia sudah menjadi minoritas.

Sebab kurang semarak dalam memperingati hari-hari besar keagamaannya, sementara umat beragama lain sangat semarak dalam memperingati hari-hari keagamaaannya, dengan dukungan gegap gembita dari media massa elektronik dan cetak yang memang sudah menjadi milik mereka.

Saya berani memprediksi, selama 5 tahun rezim Jokowi-JK berkuasa nanti (kalau toh mampu bertahan sampai 5 tahun), nasib umat Islam akan semakin menderita terlebih lagi dalam memperingati hari-hari besar keagamannya, sehingga terkesan kurang semarak dan dunia luar akan melihat kalau umat Islam sudah menjadi minoritas di Indonesia. Adapun indiksinya rezim Jokowi-JK semakin menindas umat Islam adalah:

Pertama, ketika menjadi Walikota Solo bersama Wakilnya FX Hadi Rudyatmo (Katolik), rezim Jokowi selama 7 tahun mendorong pertumbuhan Gereja sangat luar biasa, sementara pembangunan Masjid ditekan seminimal mungkin.

Sedangkan jumlah Kepala SD, SMP dan SMA Negeri yang beragama Islam terus menerus dikurangi, sehingga sekarang jumlahnya fifty-fifty dengan kepala sekolah yang beragama Kristen Katolik.

Kedua, ketika menjabat Gubernur DKI Jakarta bersama Wakilnya Ahok (Kristen), Jokowi melarang umat Islam melakukan takbir keliling pada Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha dengan dalih memacetkan lalu lintas.

Jokowi juga melarang berbagai Majelis Taklim melakukan pengajian akbar, dengan dalih memacetkan lalu lintas di sekitar lokasi.

Sementara Jokowi justru mendukung dan merestui serta membiayai pesta tahun baru dengan menutup Bundaran HI, jalan Thamrin dan jalan Sudirman, sehingga menimbulkan kemacetan sangat parah di Ibukota.

Itu belum termasuk pesta tahun baru di kampung-kampung yang mendapat sokongan dan dukungan dana dari aparat pemerintahan setempat. Semuanya itu atas instruksi dan dorongan dari rezim Jokowi-Ahok.

Ketiga, diakhir masa kekuasaan Jokowi sebagai Gubernur DKI, Plt Gubernur Ahok mengeluarkan Pergub yang melarang umat Islam DKI melaksanakan ibadah kurban di masjid-masjid dan sekolah-sekolah dengan dalih mengotori jalan dan tidak berperikehewanan.

Selain itu melarang umat Islam berdagang kambing di pinggir jalan, sehingga tahun ini sampai menimbulkan bentrokan antara pedagang kambing yang didukung umat Islam melawan Satpol PP yang menjadi antek dan budak Ahok. Umat Islam berhasil memukul mundur ‘pasukan Ahok’ yang terdiri dari para personil Satpol PP sehingga lari kocar kacir untuk menyelamatkan diri di sekitar Tanah Abang. Jelas Pergub itu sebelumnya sudah diketahui dan disetujui Jokowi.

Keempat, pemerintahan Jokowi-JK melalui tokoh Sepilis Mendikbud Anis Rasyid Baswedan yang masih memiliki darah keturunan Arab, dengan sengaja membuat peraturan mengenai libur sekolah bersamaan dengan peringatan Natal dan Tahun Baru.

Liburan sekolah yang cukup panjang selama 15 hari itu jelas jauh lebih lama daripada liburan dalam rangka perayaan Hari Raya Idul Fitri yang biasanya hanya maksimal 7 hari bahkan sering hanya 3 hari saja di era rezim SBY.

Maka tidaklah mengherankan jika sekarang kita lihat terjadinya arus mudik dalam rangka liburan Natal dan Tahun Baru yang luar biasa besarnya, dimana tidak kalah dengan arus mudik dalam rangka Hari Raya Idul Fitri.

Padahal mayoritas peserta arus mudik tersebut adalah umat Islam, sebab rezim Jokowi-JK memberi kesempatan liburan sampai 15 hari bagi para murid sekolah, sehingga mereka baru akan masuk pada 5 Januari 2015 nanti.

Dengan adanya liburan Natal dan Tahun Baru yang sangat lama ini, jelas akan menimbulkan image bahwa sekarang liburan Natal tidak kalah semaraknya dengan liburan Idul Fitri.

Arus mudik Natal sekarang tidak kalah dengan arus mudik Idul Fitri yang sama-sama semaraknya dengan diikuti jutaan pemudik. Jadi seolah-olah jumlah pemeluk Kristen dan Katolik di Indonesia tidak kalah dengan jumlah pemeluk Islam.

Memang rezim Jokowi-JK belum pernah membuat peraturan mengenai libur Hari Raya Idul Fitri, sebab umur pemerintahannya baru seumur jagung.

Tetapi saya berani memprediksi, karena Jokowi dikelilingi para tokoh China Kristen dan Katolik fundamentalis seperti James Riyadi, Anthony Salim, Sofyan Wanandi, tokoh Batak Kristen Luhut Panjaitan; maka nanti ketika membuat peraturan mengenai libur dalam rangka Hari Raya Idul Fitri akan sama dengan yang dibuat rezim SBY, yakni maksimal hanya 7 hari saja.

Sehingga umat Islam yang mayoritas mutlak di Indonesia ini ketika akan memperingati Hari Raya Idul Fitri kurang semarak karena waktunya sangat sempit dan terbatas.

Maka sebagai dampaknya arus mudik dan arus balik Idul Fitri tahun 2015/ 1436 H nanti tidak akan seramai arus mudik dan arus balik liburan Natal yang dibungkus dengan liburan Tahun Baru pada tahun ini.

Jadi sesungguhnya liburan selama 15 hari bagi para murid sekolah ini adaalah dalam rangka liburan Natal, tetapi dibungkus dengan liburan Tahun Baru, supaya tidak menimbulkan reaksi keras dari umat Islam Indonesia.

Inilah licik dan jahatnya Rezim Jokowi-JK yang dikelilingi para tokoh Kristen, Katolik dan China konglomerat hitam para pencuri dana BLBI Rp 660 triliun itu. [mic/voa-islam.com]

Oleh: Abdul Halim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 2 =